Gubuku –Pernah nggak sih baru awal bulan tapi saldo di rekening udah engap-engapan? Mau nolak ajakan hangout takut dikira nggak asyik, tapi kalau diiyain, dompet langsung menjerit. Tenang, kamu nggak sendirian kok. Banyak dari kita yang masih struggle ngatur duit karena belum paham skema prioritas keuangan.
Mengatur keuangan itu bukan berarti kamu nggak boleh bersenang-senang dan harus hidup menderita, ya. Kuncinya cuma satu: tahu mana yang wajib, mana yang sekadar pengin. Yuk, simak cara ngatur prioritas keuangan yang simpel dan masuk akal buat anak muda berikut ini!
1. Pisahkan “Kebutuhan Utama” vs “Keinginan” (Fomo Boleh, Lemah Jangan!)
Langkah paling awal dan paling krusial adalah belajar jujur sama diri sendiri. Coba bagi pengeluaranmu jadi dua kategori:
-
Kebutuhan (Needs): Hal-hal yang kalau nggak dibayar bakal bikin hidup kamu kacau. Contoh: makan sehari-hari, sewa kos, kuota internet buat kerja/kuliah, dan ongkos transportasi.
-
Keinginan (Wants): Hal-hal yang bikin hidup lebih ceria, tapi kalau nggak ada pun kamu masih hidup. Contoh: kopi kekinian tiap sore, tiket konser, nonton bioskop, atau barang imut di e-commerce yang cuma numpang lewat di FYP.
Tips: Nggak ada yang melarang kamu beli kopi kekinian, tapi pastikan kewajiban utama kamu udah aman dulu sebelum jajan!
2. Pakai Rumus Simpel 50/30/20
Bingung membagi persentasenya? Kamu bisa coba rumus keuangan klasik yang ramah pemula ini:
| Persentase | Alokasi | Keterangan |
| 50% | Kebutuhan Pokok | Bayar kos, makan, listrik, kuota, & dana harian. |
| 30% | Keinginan / Lifestyle | Nongkrong, self-reward, langganan streaming. |
| 20% | Tabungan & Masa Depan | Dana darurat, investasi, atau tabungan wishlist. |
Kalau persentase di atas masih kerasa berat, kamu bisa sesuaikan sendiri angkanya. Yang penting, selalu sisihkan uang di awal, bukan menyisakan sisa.
3. Amankan “Dana Darurat” Dulu Sebelum Beli Barang Wishlist
Sebelum kamu mulai lari ke dunia investasi atau nekat nyicil barang impian, pastikan kamu punya yang namanya Dana Darurat.
Buat apa sih? Dana darurat ini ibarat “payung” pas hujan badai tiba-tiba datang. Misalnya: HP tiba-tiba rusak padahal buat kerja, sakit, atau ada kebutuhan mendadak lainnya. Jadi pas momen apes itu datang, kamu nggak perlu kelabakan sampai harus pinjam sana-sini (pinjol/paylater).
4. Waspada Jebakan “Beli Dulu, Bayar Nanti”
Fitur Paylater atau kartu kredit memang kelihatan menyelamatkan di tanggal tua. Tapi ingat, itu bukan uang tambahan, melainkan utang.
Kalau kamu belum terbiasa ngatur uang dingin, hindari dulu kebiasaan beli barang konsumtif pakai fitur utang. Jangan sampai kenikmatan belanja 5 menit bikin kamu pusing kepikiran cicilan selama berbulan-bulan.
5. Lakukan Review Keuangan Mingguan
Nggak perlu bikin laporan keuangan rumit kayak akuntan perusahaan. Cukup pakai aplikasi catatan di HP atau aplikasi financial tracker gratisan.
Setiap akhir pekan, luangkan waktu 5 menit buat cek:
-
“Pekan ini gua paling banyak habis duit buat apa ya?”
-
“Ada pengeluaran impulsif yang sebenarnya nggak penting-penting amat nggak?”
penulis : diah smkn 8 bungo