Ikuti Tren Investasi Hanya Karena Semua Orang Melakukannya

Ikuti Tren Investasi Hanya Karena Semua Orang Melakukannya

Ikuti Tren Investasi Hanya Karena Semua Orang Melakukannya

Gubuku – Pernah enggak sih kamu ngerasa panik atau takut ketinggalan (Fear of Missing Out / FOMO) waktu nemu koin kripto baru, saham hype, atau bisnis tertentu yang tiba-tiba rame dibahas di TikTok dan X? Teman-teman kamu pada pamer cuan, influencer bilang “ini saatnya beli”, dan kamu merasa kalau enggak ikutan sekarang, kamu bakal rugi besar.

Eits, tunggu dulu! Beli aset cuma karena lagi viral adalah salah satu langkah paling berisiko yang bisa kamu lakukan. Yuk, pahami kenapa kamu enggak boleh asal ikut-ikutan tren investasi.

Kenapa FOMO Investasi Itu Berbahaya?

  1. Kamu Beli di Harga Puncak (Top)

    Saat suatu aset investasi mulai viral di media sosial, biasanya harganya sudah melonjak sangat tinggi. Orang yang membeli lebih awal sudah bersiap untuk menjual dan mengambil keuntungan (take profit). Kalau kamu baru masuk saat rumor sudah ramai, besar kemungkinan kamu sedang membeli di harga tertinggi sebelum harganya jatuh.

  2. Enggak Paham Risiko dan Cara Kerjanya

    Banyak orang masuk ke instrumen investasi yang sangat kompleks tanpa paham dasar-dasarnya. Kalau kamu enggak paham dari mana keuntungan itu berasal atau apa yang membuat nilainya turun, kamu bakal panik begitu harganya merosot sedikit saja.

  3. Risiko Jebakan Pump and Dump

    Di dunia keuangan digital, ada strategi nakal yang sebutannya pump and dump. Pihak tertentu sengaja menggoreng isu suatu instrumen investasi agar harganya naik drastis (pump). Begitu investor pemula berbondong-bondong membeli karena FOMO, pihak tersebut langsung menjual semua asetnya (dump), membuat harganya anjlok dan investor pemula rugi total.

Baca Juga :  Tidak Punya Koneksi? Bangun Kekayaan dengan Skill

Tips Berinvestasi Cerdas ala Gen Z

  • Lakukan Riset Sendiri (Do Your Own Research / DYOR): Jangan cuma percaya omongan orang lain atau influencer. Cek latar belakang instrumen tersebut, legalitasnya, dan potensi jangka panjangnya.

  • Gunakan “Uang Dingin”: Jangan pernah gunakan uang untuk kebutuhan sehari-waris, tabungan darurat, apalagi uang hasil pinjaman online (pinjol) untuk berinvestasi. Gunakan uang sisa yang kalaupun nilainya turun, enggak bakal mengganggu kehidupanmu.

  • Sesuaikan dengan Profil Risiko: Setiap orang punya toleransi risiko yang beda-beda. Kalau kamu tipe yang gampang cemas, pilih instrumen yang lebih stabil seperti reksa dana pasar uang atau surat berharga negara.

  • Fokus pada Proses, Bukan Cuan Instan: Investasi itu lari maraton, bukan lari cepat (sprint). Hasil yang konsisten dan berkelanjutan jauh lebih aman dibanding iming-iming kaya mendadak dalam semalam.

Penulis shiren dari SMKN6 Bungo.