Gubuku – Pernah nggak sih kamu merasa capek banget padahal seharian nggak melakukan aktivitas fisik yang berat? Rasanya cuma scroll medsos, ngerjain tugas, atau ngobrol sama teman, tapi pas malam hari rasanya drained banget. Kalau kamu lagi ada di fase ini, take a deep breath. Kamu nggak sendirian, dan apa yang kamu rasain itu sangat valid.
Di era yang serba cepat ini, anak muda atau Gen Z sering banget dihadapkan sama tekanan dari berbagai arah: academic pressure, ekspektasi orang tua, krisis identitas, sampai masalah pertemanan dan percintaan. Belum lagi tekanan implisit dari media sosial yang bikin kamu rawan kena FOMO (Fear of Missing Out) atau merasa tertinggal dari orang lain.
Mengapa Energi Kamu Cepat Habis?
Banyak dari kita yang tanpa sadar menghabiskan 100% kapasitas energi harian hanya untuk hal-hal defensif:
-
Overthinking: Memikirkan hal-hal yang belum tentu terjadi atau menyesali masa lalu.
-
People Pleasing: Bekerja keras demi memenuhi ekspektasi orang lain agar disukai.
-
Membandingkan Diri: Terpaku pada pencapaian orang lain di media sosial.
Ketika seluruh energi pikiran dan emosionalmu habis dipakai hanya untuk “bertahan hidup” (survival mode) dari rasa cemas dan tekanan tersebut, kamu tidak punya lagi sisa energi untuk hal yang jauh lebih penting: bertumbuh.
Beda “Bertahan” dan “Bertumbuh”
-
Bertahan (Surviving): Mode di mana kamu hanya fokus menghindari kegagalan, rasa sakit, atau kritik. Kamu berjalan di tempat karena takut mengambil risiko.
-
Bertumbuh (Growing): Mode di mana kamu berani mencoba hal baru, belajar dari kesalahan, mengembangkan skill, dan memproses emosi dengan sehat.
Bertahan itu penting untuk melewati masa-masa sulit. Namun, jika hidupmu terus-menerus berada dalam mode bertahan tanpa ada jeda, kamu akan rentan mengalami burnout.
Cara Menyisakan Energi untuk Bertumbuh
Agar kamu punya ruang dan tenaga untuk berkembang, coba terapkan beberapa langkah sederhana ini dalam kehidupan sehari-hari:
-
Pasang Batasan yang Jelas (Set Boundaries) Berani berkata “tidak” pada hal-hal yang menguras energimu tanpa memberikan dampak positif. Ini berlaku untuk lingkungan pertemanan yang toxic, komitmen yang berlebihan, atau konsumsi media sosial yang tidak sehat.
-
Kurangi Mental Clutter dengan Journaling Jangan biarkan semua pikiran menumpuk di kepala. Tuliskan apa yang kamu rasakan di kertas atau aplikasi catatan. Mengeluarkan isi pikiran bisa membantu meredakan cemas dan menghemat energi mental.
-
Fokus pada Circle of Control Pisahkan hal yang bisa kamu kendalikan (seperti tindakan, respons, dan usahamu) dengan hal yang tidak bisa kamu kendalikan (seperti pendapat orang lain atau masa depan). Alokasikan energimu hanya untuk hal-hal yang berada dalam kendalimu.
-
Jadwalkan Waktu untuk Rest Tanpa Rasa Bersalah Istirahat bukanlah tanda malas, melainkan kebutuhan biologis dan mental. Sisihkan waktu sejenak untuk memulihkan diri agar kamu siap mengambil langkah baru.
Penulis shiren dari SMKN6 Bungo.



Leave a Reply