Gubuku – Di era media sosial seperti sekarang, tekanan untuk terlihat sukses itu makin nyata. Baju branded, nongkrong tiap hari di kafe hits, sampai staycation tiap akhir pekan sering kali dijadikan tolok ukur kesuksesan. Istilah populernya: fake it till you make it. Tapi, kalau cuma demi konten dan pujian di feed Instagram, finansial kamu bisa jebol alias rungkad.
Memiliki lifestyle yang keren memang menyenangkan, tapi jauh lebih tenang kalau kamu benar-benar punya fondasi keuangan yang kokoh. Yuk, ubah pola pikir dari sekadar “terlihat kaya” menjadi “beneran kaya” dengan beberapa langkah simpel berikut!
1. Pahami Bedanya Gengsi dan Kebutuhan
Langkah pertama yang paling krusial adalah belajar membedakan mana kebutuhan mendesak dan mana yang cuma keinginan demi gengsi.
-
Keinginan demi gengsi: Beli HP keluaran terbaru padahal HP lama masih berfungsi sangat baik, hanya karena takut dikira fomo (Fear of Missing Out).
-
Kebutuhan nyata: Menyisihkan uang untuk biaya hidup harian, bayar tagihan, atau dana darurat.
Sebelum checkout barang belanjaan online, coba terapkan Aturan 24 Jam. Tahan diri kamu selama sehari. Kalau setelah 24 jam kamu merasa barang itu tidak terlalu penting, artinya itu cuma lapar mata.
2. Mulai Catat Cash Flow (Arus Kas)
Gimana mau kaya kalau kamu sendiri bingung uang kamu habis ke mana? Anak muda sering kali kejebak di micro-spending—pengeluaran kecil yang sering tidak disadari, seperti jajan kopi kekinian, ongkir makanan online, atau langganan streaming yang jarang ditonton.
Coba gunakan aplikasi pencatat keuangan atau fitur di m-banking kamu untuk melacak pengeluaran harian. Dengan melihat angka pastinya, kamu bakal lebih sadar dan bisa memangkas pengeluaran yang tidak perlu.
3. Terapkan Formula Alokasi Gaji / Uang Saku
Agar keuangan tetap seimbang, kamu bisa coba metode klasik 50/30/20:
-
50% untuk Kebutuhan (Needs): Makan, transportasi, sewa kos, dan tagihan wajib.
-
30% untuk Keinginan (Wants): Hiburan, jajan, atau item hobi.
-
20% untuk Masa Depan (Savings/Investment): Dana darurat, tabungan, dan investasi.
Kunci utamanya adalah prioritas. Begitu dapat uang saku atau gaji, langsung sisihkan 20% di awal, bukan menyisakan sisa belanja di akhir bulan.
4. Bangun Dana Darurat Sebelum Mulai Investasi
Investasi memang lagi populer di kalangan Gen Z, tapi jangan sampai kamu langsung loncat ke saham atau kripto tanpa punya fondasi. Yang paling utama dibangun adalah Dana Darurat.
Dana darurat ini adalah dana simpanan yang hanya boleh dipakai saat situasi mendesak, seperti sakit, terkena PHK, atau perbaikan barang yang rusak mendadak. Untuk kamu yang masih single, targetkan punya dana darurat sebesar 3 sampai 6 kali pengeluaran bulanan.
5. Kenali dan Pelajari Investasi yang Tepat
Setelah dana darurat aman, barulah kamu mulai masuk ke dunia investasi. Jangan asal ikut-ikutan tren (FOMO) tanpa paham risikonya.
-
Untuk pemula: Bisa mulai dari produk berisiko rendah seperti Reksadana Pasar Uang atau Surat Berharga Negara (SBN).
-
Investasi Leher ke Atas: Ini adalah investasi terbaik untuk Gen Z. Gunakan sebagian uang kamu untuk beli buku, ikut kursus, atau belajar skill baru yang bisa meningkatkan nilai diri dan potensi penghasilan kamu di masa depan.
Penulis shiren dari SMKN6 Bungo.
Leave a Reply