Gubuku – Berkendara setiap hari mungkin sudah terasa seperti rutinitas biasa. Naik motor atau mobil, berangkat sekolah, kuliah, kerja, nongkrong, lalu pulang lagi. Karena terlalu sering dilakukan, beberapa kebiasaan kecil saat berkendara justru sering dianggap normal.
Padahal, kebiasaan yang terlihat sepele bisa meningkatkan risiko kecelakaan. Apalagi kalau dilakukan berulang kali sampai menjadi otomatis.
Buat kamu yang termasuk Gen Z dan aktif berkendara, yuk mulai lebih aware dengan kebiasaan-kebiasaan berikut. Bukan untuk bikin takut, tetapi supaya perjalanan sehari-hari bisa lebih aman.
1. Mengecek HP Saat Berkendara
“Sebentar aja, cuma mau lihat notifikasi.”
Kalimat tersebut mungkin terdengar familiar. Namun, melihat HP saat kendaraan masih bergerak bisa membuat perhatian teralihkan dari jalan.
Sekilas melihat pesan saja dapat membuat pengendara kehilangan fokus terhadap kendaraan di depan, kondisi jalan, atau orang yang sedang menyeberang.
Kalau memang harus menggunakan HP, sebaiknya berhenti di tempat yang aman terlebih dahulu.
Ingat: chat bisa menunggu, keselamatan jangan.
2. Berkendara Terlalu Dekat dengan Kendaraan di Depan
Mengikuti kendaraan terlalu dekat sering dilakukan karena ingin berada di posisi depan atau tidak ingin disalip.
Masalahnya, ketika kendaraan di depan mengerem secara tiba-tiba, jarak yang terlalu dekat membuat waktu untuk bereaksi menjadi lebih sedikit.
Berikan jarak aman agar kamu punya ruang untuk melakukan pengereman atau menghindar jika terjadi sesuatu di depan.
3. Mengabaikan Kondisi Ban
Ban merupakan salah satu bagian penting yang langsung berhubungan dengan permukaan jalan. Sayangnya, banyak pengendara baru memperhatikannya ketika ban sudah bermasalah.
Ban yang kurang tekanan angin, sudah aus, atau kondisinya tidak baik dapat memengaruhi kestabilan kendaraan dan kemampuan pengereman.
Sebelum berkendara, biasakan melakukan pemeriksaan sederhana, terutama jika kendaraan akan digunakan untuk perjalanan jauh.
4. Berkendara Saat Mengantuk
“Masih kuat kok.”
Kalau sudah mulai mengantuk, sebaiknya jangan memaksakan diri. Rasa kantuk dapat menurunkan konsentrasi dan membuat respons terhadap situasi di jalan menjadi lebih lambat.
Jika perjalanan terasa berat karena mengantuk, cari tempat aman untuk berhenti dan beristirahat.
Lebih baik terlambat sampai tujuan daripada memaksakan perjalanan dalam kondisi tidak siap.
5. Tidak Menggunakan Lampu Sein
Mengubah arah atau berpindah jalur tanpa memberikan tanda bisa membuat pengendara lain terkejut.
Lampu sein bukan sekadar formalitas. Fungsinya adalah memberi informasi kepada pengguna jalan lain tentang rencana kita.
Jadi, gunakan lampu sein sebelum berbelok atau berpindah jalur, bukan setelah mulai berbelok.
6. Menerobos Lampu Merah karena Jalan Terlihat Sepi
Jalan sedang kosong bukan berarti aman untuk menerobos lampu merah.
Bisa saja ada kendaraan lain yang datang dari arah berbeda atau kondisi tertentu yang tidak terlihat dari posisi kita.
Menunggu beberapa detik memang terasa lama kalau sedang terburu-buru, tetapi tetap mematuhi lampu lalu lintas merupakan bagian penting dari keselamatan berkendara.
7. Berkendara dengan Kecepatan Berlebihan
Jalan yang sepi terkadang membuat pengendara merasa bebas meningkatkan kecepatan.
Namun, semakin tinggi kecepatan kendaraan, semakin besar pula tantangan untuk mengendalikan kendaraan ketika muncul situasi tak terduga.
Berkendaralah sesuai batas kecepatan dan kondisi jalan. Jangan menjadikan jalan raya sebagai tempat untuk membuktikan siapa yang paling cepat.
8. Tidak Menggunakan Perlengkapan Keselamatan dengan Benar
Untuk pengendara motor, helm bukan sekadar aksesori. Helm perlu digunakan dengan benar dan dikencangkan agar dapat berfungsi sebagaimana mestinya.
Begitu juga dengan pengemudi dan penumpang mobil yang perlu menggunakan sabuk pengaman.
Kebiasaan memakai perlengkapan keselamatan seharusnya dilakukan setiap kali bepergian, termasuk ketika jaraknya dekat.
9. Mendengarkan Musik Terlalu Keras
Musik memang bisa membuat perjalanan lebih menyenangkan. Tetapi, volume yang terlalu tinggi dapat membuat pengendara lebih sulit menyadari suara di sekitar.
Padahal, suara kendaraan lain, klakson, atau tanda peringatan tertentu bisa menjadi informasi penting ketika berada di jalan.
Jadi, kalau ingin tetap mendengarkan musik, pastikan volumenya tidak sampai menghilangkan kesadaran terhadap lingkungan sekitar.
10. Menganggap Perjalanan Dekat Tidak Membutuhkan Persiapan
“Kan cuma ke minimarket.”
“Rumahnya dekat.”
Justru karena perjalanan pendek sering dianggap sepele, beberapa orang menjadi kurang berhati-hati.
Padahal, risiko di jalan tidak ditentukan hanya oleh jarak perjalanan. Bahkan perjalanan yang singkat tetap membutuhkan fokus, perlengkapan keselamatan, dan kepatuhan terhadap aturan lalu lintas.
Biasakan berkendara dengan aman setiap kali keluar rumah, bukan hanya ketika melakukan perjalanan jauh.
Kenapa Kebiasaan Kecil Bisa Berbahaya?
Kebiasaan buruk saat berkendara biasanya tidak langsung menimbulkan masalah. Karena itu, pengendara bisa merasa bahwa kebiasaan tersebut aman-aman saja.
Contohnya, seseorang mungkin berkali-kali mengecek HP ketika berkendara dan tidak mengalami kejadian apa pun. Hal tersebut kemudian membuatnya berpikir bahwa kebiasaan tersebut tidak berbahaya.
Padahal, keselamatan berkendara bukan tentang apakah sesuatu sudah pernah menyebabkan masalah atau belum. Yang penting adalah mengurangi risiko sebelum sesuatu terjadi.
Cara Membentuk Kebiasaan Berkendara yang Lebih Aman
Mulai dari hal sederhana. Sebelum kendaraan bergerak, pastikan kamu sudah siap berkendara.
Beberapa kebiasaan yang bisa diterapkan antara lain:
- Simpan HP sebelum kendaraan mulai berjalan.
- Gunakan helm atau sabuk pengaman dengan benar.
- Periksa kondisi ban secara rutin.
- Jangan berkendara ketika sangat mengantuk.
- Jaga jarak dengan kendaraan di depan.
- Gunakan lampu sein ketika berbelok atau berpindah jalur.
- Patuhi lampu lalu lintas dan rambu jalan.
- Sesuaikan kecepatan dengan batas yang berlaku dan kondisi jalan.
- Tetap fokus meskipun perjalanan hanya sebentar.
- Jangan memaksakan diri ketika kondisi tubuh atau kendaraan tidak siap.
penulis : ria angelia – smkn 6 merangin




Leave a Reply