Gubuku – Pernah nggak sih kamu merasa fomo (fear of missing out) cuma gara-gara lihat postingan teman di Instagram atau TikTok? Mulai dari nongkrong di kafe hits tiap weekend, pakai baju dari merek terkenal, sampai gaya hidup yang kelihatannya “sempurna” banget.
Tanpa sadar, ada rasa bersalah atau merasa “kurang” kalau kita nggak mengikuti tren tersebut. Inilah yang dinamakan tekanan sosial. Kalau terus-terusan diturutin, tekanan ini bisa pelan-pelan merusak dan menghabiskan masa depanmu. Yuk, simak alasannya!
1. Bahaya Mengikuti Ekspektasi Orang Lain
Memenuhi ekspektasi lingkungan sosial itu nggak bakal ada habisnya. Hari ini trennya A, besok sudah berganti jadi B. Kalau kamu terus memaksa diri untuk menyesuaikan diri:
-
Finansial Berantakan: Uang tabungan habis cuma buat beli barang yang sebenarnya nggak kamu butuhkan demi dipuji orang lain.
-
Mental Kelelahan: Merasa cemas, stres, dan selalu membandingkan diri sendiri dengan standar orang lain (compare and despair).
-
Kehilangan Jati Diri: Kamu jadi lupa apa yang sebenarnya kamu suka dan apa tujuan hidupmu yang sesungguhnya.
“Satu-satunya standar yang harus kamu penuhi adalah standar yang kamu buat sendiri, bukan standar yang ditentukan oleh feed media sosial orang lain.”
2. Cara Bebas dari Tekanan Sosial dan Fokus pada Masa Depan
Bebas dari tekanan sosial bukan berarti kamu harus menutup diri dari pergaulan. Ini tentang bagaimana kamu memegang kendali penuh atas hidupmu sendiri.
A. Batasi Screen Time dan Lakukan Digital Detox
Media sosial sering kali hanya menampilkan highlight reel atau bagian terbaik dari hidup seseorang, bukan kenyataan seutuhnya. Kalau mulai merasa cemas, coba rehat sejenak dari media sosial.
B. Kenali Nilai dan Impian Pribadi
Tanyakan pada dirimu sendiri: Apa yang benar-benar ingin aku capai dalam 5 tahun ke depan? Fokuskan energi, waktu, dan sumber daya yang kamu miliki untuk mengejar cita-cita tersebut.
C. Cari Lingkungan yang Supporting
Pilih teman dan komunitas yang menerima kamu apa adanya, bukan yang cuma menilai kamu dari penampilan, tempat nongkrong, atau barang yang kamu pakai.
Penulis: Shiren dari SMKN6 Bungo.




Leave a Reply