Gubuku – Pernah nggak sih kamu melihat seseorang yang penampilannya biasa saja, cuma pakai kaos polos dan celana jeans tanpa logo brand besar, tapi ternyata tabungan dan investasinya ratusan juta? Di sisi lain, ada juga yang setiap bulan selalu pamer barang branded terbaru di media sosial, tapi H-10 gajian sudah pusing karena tagihan kartu kredit menumpuk.
Fenomena ini makin sering terjadi di era sekarang. Banyak orang terjebak dalam perangkap conspicuous consumption—yaitu kebiasaan membeli barang mahal hanya demi terlihat kaya dan mendapatkan pengakuan dari orang lain. Padahal, perempuan yang benar-benar kaya secara finansial maupun mental punya pola pikir yang sangat berbeda. Mereka tidak butuh barang mewah hanya untuk membuktikan nilai diri (self-worth) mereka.
Mindset “Quiet Wealth”: Lebih Pilih Aset daripada Aksesori
Perempuan yang paham cara mengelola keuangan tahu betul perbedaan antara looking rich (terlihat kaya) dan being rich (benar-benar kaya). Ketika seseorang sibuk membeli barang-barang impulsif demi pujian di media sosial, biasanya mereka sedang menutupi rasa tidak aman (insecurity).
Nilai diri berasal dari kualitas karakter, wawasan, pencapaian, dan rasa aman secara finansial.
Berikut adalah beberapa alasan mengapa perempuan kaya tidak membeli barang hanya demi pembuktian diri:
-
Fokus pada Capital Growth: Dana yang dimiliki lebih banyak dialokasikan ke instrumen investasi seperti saham, reksa dana, properti, atau pengembangan bisnis ketimbang barang yang nilainya langsung turun (depreciating assets).
-
Membeli Kualitas, Bukan Cuma Gengsi: Saat membeli sesuatu, fokus utamanya adalah fungsi, kenyamanan, dan ketahanan barang (durability), bukan sekadar logo besar yang terpampang di luarnya.
penulis : diah smkn 8 bungo



Leave a Reply