Kita Membeli Barang yang Sebenarnya Tidak Kita Butuhkan?

Kita Membeli Barang yang Sebenarnya Tidak Kita Butuhkan?

Kita Membeli Barang yang Sebenarnya Tidak Kita Butuhkan?

Gubuku – Pernah enggak sih kamu niatnya cuma mau “cuci mata” di e-commerce atau mampir sebentar ke mall, tapi pas pulang malah bawa tentengan belanjaan? Pas nyampe kamar, kamu cuma bisa ngeliatin barangnya sambil batin: “Buat apa coba gue beli ini?”

Yuk, kita bongkar rahasia psikologi di baliknya pakai bahasa yang simpel!

1. Kena Jebak FOMO (Fear of Missing Out)

Gen Z pasti udah familiar banget sama istilah ini. Ketika ada produk yang lagi trending di TikTok atau dipakai influencer favorit, ada dorongan tak kasatmata yang bikin kita merasa harus punya juga. Rasa takut dianggap “ketinggalan zaman” atau enggak relate sama tongkrongan sering kali bikin kita buru-buru pencet tombol Checkout.

2. Efek Diskon dan “Self-Reward” yang Kelelasan

  • “Cuma 20 ribu dapat 3, rugi kalau enggak beli!”

  • “Hari ini capek banget, butuh hiburan ah.”

Kalimat-kalimat di atas adalah bentuk rationalizing atau alasan yang dibuat otak kita untuk membenarkan tindakan belanja. Niat awal mau self-reward atas kerja keras minggu ini, eh malah keterusan sampai bikin tabungan menipis. Belum lagi iming-iming flash sale yang bikin kita merasa lagi “untung”, padahal sejatinya kita ngeluarin uang buat barang yang enggak dicari.

3. Kemudahan Transaksi di Era Digital

Dulu kalau mau belanja, kita harus jalan ke toko, bawa uang cash, atau ngantre di kasir. Proses itu memberi waktu bagi otak untuk berpikir: “Perlu enggak ya?”

Baca Juga :  Seberapa Jatuhmu, Tapi Seberapa Cepat Kamu Bangkit

Sekarang? Tinggal sekali click, bayar pakai e-wallet atau paylater, barang langsung jalan ke rumah. Kemudahan ini bikin jarak antara “pengin” dan “beli” jadi makin tipis, sampai kita enggak sempat mikir panjang.

4. Beli Emosi, Bukan Beli Barang

Ternyata, sering kali yang kita beli itu bukan fungsi barangnya, melainkan perasaan yang didapat saat membeli barang tersebut.

  • Beli baju baru biar merasa lebih percaya diri.

  • Beli skincare mahal biar merasa udah self-care.

  • Beli tumbler gemes biar kelihatan lebih estetika.

Shopping memberikan sensasi peningkatan hormon dopamin (hormon bahagia) secara instan. Masalahnya, rasa bahagia ini cuma bertahan sebentar. Begitu barangnya sampai, rasa senangnya hilang, dan barangnya cuma ngetok di pojokan kamar.

Trik Simpel Biar Enggak Gampang “Lapar Mata”

Kalau kamu pengin lebih hemat dan terhindar dari jebalan belanja impulsif, coba terapkan trik ini:

  • Aturan 24 Jam: Kalau ngeliat barang gemes di toko online, simpan dulu di keranjang (cart) selama 24 jam. Jangan langsung dibayar. Biasanya setelah seharian, rasa penginnya bakal berkurang drastis.

  • Hitung Pakai Jam Kerja: Misal harga bajunya Rp200.000, bayangkan berapa jam kamu harus usaha/kerja buat dapet uang segitu. Apakah baju itu sepadan sama rasa capek kamu?

  • Unfollow & Mute: Kalau linimasa sosmed kamu complies sama racun belanja, kurangi akun-akun yang bikin kamu gampang kepancing.

Penulis shiren dari SMKN6 Bungo.