Gubuku – Fenomena emotional spending atau belanja impulsif untuk meredakan emosi makin sering dialami anak muda, khususnya perempuan. Alih-alih menyelesaikan masalah utama, kebiasaan ini sering kali muncul sebagai mekanisme pertahanan diri saat merasa kesepian, stres, atau hampa.
Mengapa Hal Ini Terjadi?
-
Dopamin Instan: Aktivitas belanja memicu pelepasan hormon dopamin di otak. Rasa senang saat menekan tombol “beli” atau membawa kantong belanjaan memberikan kepuasan sesaat yang menutupi rasa sepi.
-
Pelarian dari Tekanan: Beban emosional atau ekspektasi sosial sering membuat seseorang merasa kelelahan emosional. Berbelanja menjadi cara cepat untuk mengalihkan perhatian dari perasaan negatif tersebut.
-
Pengaruh Sosial dan Media: Paparan konten gaya hidup di media sosial dapat memperkuat dorongan untuk terus membeli barang agar merasa “cukup” atau setara dengan orang lain.
Dampak Kebiasaan Emotional Spending
Kebiasaan ini tidak menyelesaikan akar masalah emosional. Setelah rasa senang dari barang baru memudar, rasa hampa itu sering kali kembali, ditambah dengan penyesalan atau masalah keuangan di kemudian hari.
Langkah Memutus Rantai Emotional Spending
-
Terapkan Aturan Jeda 24 Jam: Saat merasa ingin membeli sesuatu secara impulsif, tunda pembelian selama 24 jam untuk menilai apakah barang tersebut benar-benar dibutuhkan atau hanya pemuas emosi sesaat.
-
Kenali Pemicu Emosi: Catat situasi atau perasaan yang biasanya memicu keinginan belanja. Dengan menyadari pemicunya, tindakan pencegahan bisa diambil lebih awal.
Penulis shiren dari SMKN6 Bungo.




Leave a Reply